Home » Dunia Ilmiah » Skripsi Pola Asuh Orang Tua Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Remaja

Skripsi PendidikanSkripsi Pendidikan Remaja. Skripsi ini yang berjudul “Pola Asuh Orang Tua Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Remaja Di Madrasah Tsanawiyah Negeri 15 Marunda Jakarta Utara” skripsi berikut ini sudah final dan sudah komplet. Untuk anda yang sedang mencari skripsi berikut ini saya lampirkan BAB I dan Daftar Isi nya.

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Peran orang tua dalam dunia pendidikan, termasuk dalam lembaga pendidikan formal tidak diragukan lagi. Selama peran itu (sebelum lahirnya Undang-undang Sisdiknas) telah dibuktikan dengan adanya Sumbangan Pokok Pendidikan (SPP), ditambah labi sumbangan dan bantuan lainnya dalam berbagai bentuk yang ditentukan oleh lembga pendidikan yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, dalam situasi apapun program pendidikan yang dicanangkan pemerintah tidak dapat dilepaskan dari peran aktif orang tua dan masyarakat secara luas. Di satu sisi, pemerintah memiliki tujuan yang tepat dan jelas, yaitu ingin mencerdaskan bangsa secara utuh, baik pria maupun wanita  agar nantinya dapat berpartisipasi dalam pembangunan, dan di sisi lain, orang tua dan masyarakat luas mempunyai rencana  dan harapan tersendiri terhadap pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat luas dan orang tua agar pendidikan yang diselenggarakan merupakan keinginan bersama dan akhirnya dapat mencapai kesuksesan sesuai dengan yang diharapkan.

Berbagai upaya dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, mempunyai kaitan yang erat dengan lingkungan mikro, yaitu keluarga atau rumah tangga. Gambaran tentang keluarga adalah, bahwa keluarga, lazimnya dihuni oleh ayah (suami), ibu (isteri), anak-anak, bahkan mungkin orang yang lain yang “senasab” dengan keluarga tersebut untuk hidup secara bersama-sama. Inilah kelompok sosial pertama dalam kehidupan anak-anak. Di tempat ini anak-anak belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial melalui interaksi sosial keluarga.

Lembaga pendidikan dalam bentuk sekolah formal merupakan lingkungan kedua. Di sekolah anak juga belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain. Proses pendidikan di sekolah berbeda dengan di dalam keluarga atau di rumah, ia belum mengetahui segala sesuatu di luar lingkungan hidupnya. Orang tualah yang memberitahukan dan membantu memahami keadaan dunia di luar lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Adanya tanggung jawab orang tua atas kesejahteraan anak dan kebahagiaan anak mengandung arti bahwa setiap orang tua berkewajiban memelihara, mendidik agar tumbuh dan berkembang menjadi cerdas, sehat, berbakti kepada orang tua, bertakwa kepada Allah SAW, serta berusaha meneruskan cita-cita dan tugasnya yang mulia. Itulah sebabnya Allah memperingatkan hambanya dalam salah satu firman-nya :

“Hai orang-orang yang beriman dirimu dan keluargamu dari api neraka……” (al Tahrim, Q.S. 66 : 6).

Ayat di atas didukung hadis Nabi SAW yang berbunyi :

“Ajarkanlah kebaikan pada anak-anakmu dan keluargamu dan didiklah mereka” (H.R. Abdur Razak dan Sa’id bin Mansur)[1].

Hadis Nabi SAW lainnya :

“Didiklah anak-anakmu pada tiga hal : mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca al Quran” (H.R. Thabrani)[2].

Ayat dan hadis-hadis tersebut di atas memberikan amanat, khususnya kepada para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan baik, sehingga mereka kelak dapat berbakti kepada orang tuanya, agama dan bangsa.

Kendati demikian, masih ada sikap dan perilaku orang tua yang keliru terhadap anaknya, sehingga sering mengakibatkan perkembangan pribadi anak menjadi terhambat. Misalnya, sikap orang tua yang otoriter, tidak demokratis, mau menang sendiri, menganggap anak tidak tahu apa-apa, dan sebagainya. Inilah wacana pola-pola asuh orang tua yang trerjadi di tengah-tengah masyarakat, di samping, tentu saja ada yang bersikap demokratis dalam melaksanakan pola asuh tersebut.

Keadaan seperti yang digambarkan di atas disebabkan oleh beberapa faktor, yakni selain faktor sikap orang tua yang mempengaruhi terhadap sosialisasi anak, pengetahuan dan pendidikan orang tua juga memainkan peran, di samping faktor ekonomi yang juga dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam pola asuh orang tua.

Unit terkecil dalam kehidupan masyarakat adalah keluarga yang kerap kali dianggap sebagai kunci utama untuk mewujudkan kedisiplinan, keserasian, keseimbangan, dan keselarasan. Hal ini sejalan dengan Undang-undang No. 6 tahun 1974, yang menyatakan : “Kesejahteraan masyarakat, dan dianggap sebagai kunci utama bagi perwujudan masyarakat adalah keluarga”[3].

Keluarga dalam pandangan Muhaimin adalah suatu kesatuan terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk sosial yang mempunyai tempat tinggal yang ditandai oleh kerjasama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, dan sebagainya[4]. Sementara Notowidagdo menyatakan bahwa keluarga adalah unit/kesatuan terkecil yang biasanya terdiri dari suami, isteri dan anak-anaknya. Keluarga sebagai medium di mana terselenggara hubungan yang akrab diwarnai dengan kasih sayang dan penuh kemesraan[5].

Pakar lain yang juga berbicara tentang keluarga adalah M. Quraish Shihab. Dalam pandangannya, keluarga adalah unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Selama pembangkit itu mampu menyalurkan arus yang kuat lagi sehat, selama itu pula masyarakat dan bangsa akan menjadi kuat dan sehat[6].

Uraian tersebut di atas memberikan simpulan bahwa keluarga adalah unit terkecil yang mempunyai pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas, hak dan kewajiban masing-masing anggotanya. Keluarga juga merupakan madrasah tempat putera-puteri bangsa belajar dan mengenyam pendidikan. Di sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, akhlaq, dan agama.

Keluarga sendiri terbentuk dari hubungan seorang laki-laki dan perempuan dalam suatu lembaga “perkawinan”,  yang memang hal tersebut merupakan bagian dari “sunnatullah”, sebagaimana firman-Nya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (al Rum, Q.S. 30 : 21).

Ayat di atas memberi pelajaran kepada umat Islam agar tidak menghalangi atau mengekang fitrah manusia yang diciptakan berpasang-pasangan melalui perkawinan. Perkawinan yang sah merupakan langkah awal pembentukan keluarga. Tujuannya adalah untuk memperoleh ketentraman, kebahagiaan yang didasarkan pada cinta-kasih, sesuai bunyi ayat di atas. Selain itu, tujuan perkawinan sebagaimana lazimnya terjadi selama ini dalam masyarakat yang penulis amati, sekurang-kurangnya ada empat macam, yaitu : memperoleh keturunan, mencari kebahagiaan, mengembangkan kepribadian dan menjadi bagian dari masyarakat atau negara.

Pemikiran tersebut di atas, idealnya setiap anak mendapat perhatian dan kasih-sayang orang tua masing-masing. Tetapi pada kenyataannya yang sering dihadapi adalah tidak semua anak dapat memperoleh semua itu karena orang tuanya meninggal, bercerai, atau hubungan yang kurang harmonis, atau sebab lain di antara anggota keluarga. Kondisi ini akan membawa dampak pada perkembangan anak secara ruhaniah atau perkembangan jiwa anak pada masa-masa perkembangan dan pertumbuhannya, dan bahkan dapat mengarahkan anak kepada hal-hal yang bersifat negatif. Agar hal-hal negatif itu tidak terjadi pada para remaja ada cara yang dapat dilakukan para orang tua yaitu dengan menumbuhkan kecerdasan spritual yang ada pada diri para remaja.

Idealnya setiap muslim memiliki kecerdasan spiritual akan tetapi kecerdasan spiritual itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Kecerdasan spiritual harus ditumbuhkan dengan cara yang tepat oleh orang yang tepat agar kecerdasan spiritual yang ada pada diri para remaja tidak akan beku atau bahkan akan mati, maka kecerdasan spiritual itu akan tumbuh dan berkembang sesuai yang diharapkan. Orang yang tepat untuk membantu pertumbuhan kecerdasan spiritual itu adalah orang tuanya. Nah bagaimana pola asuh orang tua dalam menumbuhkan kecerdasan spiritual itu?. Inilah yang kemudian penulis jadikan topik penelitian dalam bentuk skripsi.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

  • Apakah keluarga dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam melakukan interaksi sosialnya?
  • Apakah keluarga dapat melakukan tugas dan fungsinya sesuai aturan yang benar dan lazim masyarakat?
  • Apakah tujuan berkeluarga untuk memperoleh ketentraman, kebahagiaan yang didasarkan pada cinta-kasih, memperoleh keturunan, dan sebagainya dapat diwujudkan?.
  • Apakah keluarga sebagai kunci utama dalam kehidupan masyarakat dapat mewujudkan kedisiplinan, keserasian, keseimbangan, dan keselarasan?.
  • Bagaimana pola asuh keluarga sehingga dapat membantu segala keperluan anggota keluarga, terutama bagi anak-anak?.

Pembatasan Masalah

Sehubungan dengan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut :

  • Pola asuh orang tua dalam menumbuhkan kecerdasan spiritual remaja usia 13 – 15 tahun di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Negeri 15 Marunda Jakarta Utara.
  • Menumbuhkan kecerdasan spriritual remaja usia 13 – 15 tahun adalah untuk menanamkan nilai-nilai moral kegamaan, membentuk sikap dan perilaku, agar anak mampu mengembangkan dirinya secara optimal.

Perumusan Masalah

Mengacu pada pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah : Bagaimana pola asuh orang tua dalam menumbuhkan kecerdasan remaja usia 13 – 16 tahun di Madrsah Tsanawiyah Negeri 15 Marunda Jakarta Utara?.

B.   Manfaat Penelitian 

Manfaat Penelitian ini adalah sebagai berkut :

  1. Memberikan informasi kepada masyarakat, terutama para orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan menggunakan pola-pola yang tepat, sehingga mereka akan tumbuh dan berkembang secara wajar.
  2. Memberikan pemahaman baru tentang pola-pola mengasuh anak, seperti : otoriter, demokratis, memanjakan, mengekang, bahkan mungkin tidak peduli. Sehingga akhirnya mereka dapat memilih mana yang terbaik.

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini disusun sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan, berisi : latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Kajian pustaka, kerangka berpikir dan pertanyaan penelitian. Kajian pustaka meliputi : pola asuh orang tua, kecerdasan spiritual, dan remaja.

Bab III : Metodologi penelitian, menguraikan : tempat dan waktu penelitian, tujuan penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data.

Bab IV : Hasil penelitian, menyampaikan : deskripsi data, analisa data, dan interpretasi data.

Bab V : Kesimpulan dan saran, berisi : beberapa kesimpulan yang dapat diambil, dan bebeapa saran yang dianggap perlu untuk disampaikan.

Catatan Kaki

[1] Abdullah Nasikh Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Jilid I, Terjemahan Jamaludin Miri, (Jakarta : Pustaka Amani, 2002), Cet. Ke-3, h. 159.

[2] I b i d.

[3] Undang-undang No. 6 tahun 1974, dalam, Agus Suradika dan Indah Wahyuni, “Perbedaan Kedisiplinan Anak pada Pola Asuh Orang Tua”, Jurnal Penelitian Universitas Muhammadiyah, Volume 7, Nomor 1, Maret 2001, h. 86.

[4] Muhaimain dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung : Trigenda Karya, 1993), Cet. Ke-1, h. 289.

[5] Rohiman Notowidagdo,  Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta : Socialis, 1991), Cet. ke-2, h. 22.

[6] M. Quraish Shihab, Membumikan al Quran, (Bandung : Mizan, 1992), Cet. ke-1, h. 253.

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

ABSTRAKSI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

BAB I : PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

Manfaat Penelitian

Sistematika Penelitian

BAB II : KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN PERTANYAAN PENELITIAN

Kajian Pustaka

  • Pola Asuh orang Tua
  • Kecerdasan Spiritual
  • Remaja

Kerangka Berpikir

Pertanyaan Penelitian

BAB  III :  METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Tujuan Penelitian

Mmetode Penelitian

Populasi dan Sampel

Teknik dan Pengumpulan Data

Teknik Analisa Data

BAB  IV :  HASIL PENELITIAN

Deskripsi Data

Analisa Data

Penafsiran Data

BAB   V :   KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Skripsi Pendidikan di atas benar-benar sudah teruji kwalitasnya karena sudah mendapatkan Lembar Persetuuan Pembimbing. Apakah anda tertarik dengan Skripsi Pola Asuh Orang Tua Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Remaja jika anda tertarik dengan skripsi di atas anda dapat menghubugi Co2 melalui email [cuciotakonline@gmail.com]. sekian dan terima kasih.

 

Related Post & Sponsor: Skripsi Pola Asuh Orang Tua Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Remaja

Skripsi Pengelolaan Dana Tabarru Pada Produk Asuransi Jiwa

Makalah Masalah Budaya Dalam Bahasa

Tesis Perdagangan Saham Di Pasar Sekunder Perspektif Ekonomi Islam

Skripsi Pelayanan Sarana Dan Prasarana Inventaris Kekayaan Milik Negara Dalam Rangka Menunjang Keberhasilan Belajar Mahasiswa

Makalah Signifikansi Cross-Cultural Understanding Dalam Penerjemahan